MY
DREAM
Hari ini aku dan keluargaku pergi ke
kota, kami sekeluarga pindah rumah karena ayahku mendapat tugas di kota
Surabaya.
“Ma, kita berangkat jam berapa?”
“Sebentar lagi.” kata ibu yang tersenyum
kepada Rina.
“Rin, nanti di Surabaya setelah lulus
kuliah, kamu bisa cari Sekolah Perawat.” orang tua Rina memang menginginkan
Rina menjadi seorang perawat dan menjadi
seorang perawat memang impian Rina.
“Tapi sekolah perawat itukan butuh
biaya yang tinggi, Ma?”
“Rin, soal biaya kamu nggak usah
khawatir, papa dan mama akan berusaha menanggungnya.Kamu adalah anak ibu satu-satunya ,belajar yang giat ya !”
“Baik, Ma..aku janji.”
dengan semangat Rina menjawabnya.
Diperjalanan.
“Pa, apa di Surabaya kita
sudah punya rumah?” tanya Rina antusias.
“Sudah, papa sudah mencari
rumah kontrakan, nanti kita bisa tinggal disana.”
Saat mobil ayah melaju
kencang tiba-tiba ada truk melintas di depan mobil.
“Papa…a.a.awasss.!!!!!
Brakkkkkkkkkkk…
Setelah aku sadar badanku terasa
sakit semua dan penuh luka, ku lihat papa dan mama tidak bergerak .
“Papa, mama banguuun.! Jangan
tinggalin Rina sendiri.” Rina menangis di samping tubuh kedua orang tuanya yang
tidak bernyawa lagi.
Orang-orang datang memberi
pertolongan.
Satu Minggu telah berlalu, kedua
orang tua Rina sudah dimakamkan, hari itu Rina tinggal di rumah yang sudah
dikontrak ayahnya. Hari-hari Rina terasa
sepi dan diselimuti duka.
“Papa, mama aku berjanji akan giat
belajar dan mewujudkan cita-cita yang aku inginkan dan membanggakan kalian.”
ucap Rina dalam hatinya.
Setahun sudah berlalu papa maam pergi
tapi ada Indra yang selalu menemaniku .Indra adalah sahabat baikku di Surabaya,
dia satu sekolah denganku saat aku sepi dia selalu menghiburku.
“Rin …luluss sekolah kamu mau jadi
seorang perawat ya?” tanya Indra.
“Ia…sich, menjadi perawat adalah
impianku.Tapi aku tidak punya uang untuk masuk sekolah perawat.mungkin aku akan
bekerja dulu agar bisa sekolah di sana.” jawab Rina.
“Dukung aku yia, Ndra !” Rina
tersenyum manis kepada Indra. “Sekarang adalah hari peringatan kematian orang
tuaku antar aku sampai di makam ya?”
Sesampainya di makam
“Papa, mama aku rindu dengan kalian,
aku akan berusaha mencapai cita-cita yang sudah aku impikan dari kecil. Doakan
aku dari sana , aku akan selalu mendoakan kalian.” air mata Rina membasahi
pipinya.
Tanpa sadar Rina menangis dipelukkan
Indra.
Tak terasa sekarang hari kelulusan
siswa Universitas.
“Rin ..kamu lulus nggak…?” tanya
Indra.
“Lulus donk.” Rina tersenyum lebar.
“Kalo kamu..Ndra?” tanya Rina
penasaran.
“Aku juga lulus. Aku ingin jadi
Arsitek ,dukung aku ya, Rin?”
Rina mengangugkan kepalanya dengan
senyum manisnya yang khas.
Senin ini adalah pendaftaran terakhir
masuk perawat, Rina masih ragu dengan dirinya ,Rina bingung karena uang yang
dia punya tidak cukup.
“Lho, kok masih di rumah,kamu ndak
mendaftar masuk perawat?” Indra melihat Rina yang sedang menghitung
tabungannya.
“Itu di masalahnya Ndra.” Rina
tertunduk lesu.
“Aku tau kok Rin ,uang kamu ndak
cukup untuk membayar kan? Jangan karena uang kamu patah semangat, kamu harus
tetap sekolah di sana, bisa dibayar setengah dulu , nanti siapa tahu ada
beasiswa yang biasa membantu kamu.”
“Iya juga ya, Ndra.” Rina bergegas
pergi.
“Semangat ya!” teriak Indra.
“Ternyata benar kata Indra,karena
uang kita tidak boleh patah semangat.” Rina tersenyum mengingat kata-kata
Indra.
Waktu berjalan begitu cepat, ternyata
sudah satu bulan Rina tinggal di asrama perawat. Jelas saja Rina tidak bisa
bertemu dengan Indra.
Ketika praktek Ibu Hesti memanggil
Rina beliau adalah pimpinan di Sekolah Perawat.
“Rina kamu bayar biaya masuk baru
setengah kan?” tanya Ibu Hesti.
“Iya bu, nanti kalau saya udah lulus
saya akan membayarnya.”
“Nggak usah Rin.” Kata Bu Hesti.
“Lho kok nggak usah dibayar,
kenapa..? Rina terkejut mendengarnya.
“Selamat ya Rin kamu dapat beasiswa.”
Bu Hesti tersenyum.
“Ha,…yang bener Bu?” Rina masih merasa tak percaya.
“Bu beasiswa dari siapa?”
“Dari seseorang yang sangat baik,dan
peduli sama kamu.”
“Siapa ya…?” Rina berpikir.
“Haah.. enggak usah dipikirin,
sekarang aku harus bersyukur pada tuhan apa yang telah dia berikan ,itu adalah
yang terbaik bagiku.”
Keesokan harinya saat melihat ke luar
jendela kamar,tiba-tiba ada Indra nongol di pintu gerbang .
“Rina apa kabar keluar donk!!!”
teriak Indra.
“Indra jangan teriak-teriak!” Rina
kesal.
“Rin…aku kangen sama kamu.”
“Aku juga.. tapi sekarang kamu pergi
aja ya? Nanti pimpinan tahu aku keluar, bisa gawat entar.”
“Nggak mau aku mau lihat kamu terus.”
“Iiih… Indra aku masuk ya..lihat aja
aku terus sampai matamu bonar, aku pergi.” Rina tertawa geli melihat raut wajah
Indra.
Nggak terasa suda tiga tahun Rina di asrama sekarang
adalah pelepasan siswa yang berhasil lulus menjadi perawat, Rina sangat deg-degan
dan tidak menyangka dia dinyatakan lulus..
Suatu hari Rian janjian di restoran
dengan Indra.
“Rin aku mau ngomong sama kamu.” raut
wajah Indra sangat tegang.
“Apaan Ndra?” tanya Rina penasaran.
“Gini Rin, kamu mau nggak jadi
pacarku.?” wajah indra semakin memerah.
“A..a…jadi pacarmu? Yang bener
aja,kamu, Ndra?” Rina sangaa terkejut mendengarnya.
“Ini beneran Rin, aku suka sama
kamu,aku ingin kita lebih dari sekedar sahabat, kamu tinggal jawab , kamu suka
aku apa nggak?” Indra menatap mata Rina dalam-dalam seakan-akan mencari
jawaban.
“Aku nggak bisa jawab sekarang.”
“Oh, iya aku mau tanya kira-kira siapa ya
..yang ngasih aku beasiswa?” Rina masih penasaran.
“Kamu tau siapa orangnya? Dia ada di
depanmu.” jawab Indra.
“Apa..? Jadi kamu orangnya. Bohong… dapat uang dari
mana segitu banyaknya?” Rina gag percaya.
“Nggak percaya…enggak apa
deh..setelah ini kita kerumah ku yuk?” ajak Indra.
“Ke mana ke kostmu, Ndra?”
“Enggak, kita ke rumah asliku.”
Di rumah Indra,
“Waah..aku nggak nyangka ternyata
kamu orang kaya, rumahmu besar sekali .Aku kira kamu kayak aku, ternyata benar
kamu yang bayarin sekolahku?” Rina akhirnya percaya.
“Iya.. aku lakuin itu agar kamu
berhasil.” sambil memberikan Rina segelas air.
“Tapi ,Ndra aku akan balikin uang
itu.”
“Nggak usah Rin.”
“Kenapa…?” tanya Rina
“Maksudku kamu nggak perlu balikin
dengan uang.”
“Terus dengan apa?”
“Dengan Cinta.”
“Apa?” Rina terkejut.
“Rin, kamu tidak usah jawab sekarang
,aku tau kamu masih bingung.”
Setelah lama berlalu Rina baru sadar
bahwa Indra selalu ada disaat Rina kebingungan dan Rina juga suka dengannya.
Sabtu malam Indra dating ke rumah
Rina.
“Rin.. apa kamu udah bisa jawab?”
tanya Indra penasaran.
“Iya Ndra, aku juga sayang kamu ,aku
mau jadi pacarmu.”
“Haa.. yang benar?” Indra benar-benar
merasa semua seperti mimpi.
“Ndra aku ndak punya siapa-siapa
,tolong jangan tinggalkan aku ya?”
“Iya Rin ,aku janji akan menyayangimu
dan mencintaimu selalu.” Indra memeluk Rina.
“Terima kasih Ndra , besok antar aku
ke pemakaman ya.”
Di pemakaman.
“Papa, mama aku sudah berhasil
menjadi seorang perawat, terma kasih mama papa atas doanya di sini aku selalu
merindukan kalian.”
“Suster Rina kita pulang yuk..” goda
Indra
“I..ih ..Indra..Ayo pak arsitek
he..he..” Rina tertawa.
Cita-cita yang menjadi impianku
selama ini sudah terwujud , terima kasih Tuhan aku akan menjalani hidup lebih
semangat lagi dan melupakan masa laluku yang buruk, terima kasih semuanya.
Inilah kisahku sampai jumpa di kisah berikutnya
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar